Muludan Trusmi merupakan rangkaian dari acara tradisi Muludan Cirebon yang dimulai dari Keraton Kanoman ( 1-8 Mulud ), Keraton Kasepuhan ( 1-12 Mulud ) Gunung Jati ( 12 Mulud ), Tuk ( 19 Mulud ), Gegesik ( 21 Mulud ) dan terkhir Trusmi ( 12-25 Mulud ). Muludan Trusmi terbesar kedua setelah Keraton Kasepuhan.Hal ini terlihat dari jumlah pedagang dan pengunjung yang membanjiri acara ini. Rentetan pedagang dan hiburan berjajar sepanjang jalan desa Trusmi Wetan, Trusmi Kulon, Weru Lor dan Kaliwulu.
Showing posts with label tradisi. Show all posts
Showing posts with label tradisi. Show all posts
Thursday, March 11, 2010
Thursday, February 4, 2010
Wisata Jiarah Cirebon
Makam Sunan Gunung Jati
Dihiasi dengan keramik buatan Cina jaman Dinasti Ming. Di komplek makam ini di samping tempat dimakamkannya Sunan Gunung Jati juga tempat dimakamkannya Fatahilah panglima perang pembebasan Batavia. Lokasi ini merupakan komplek pemakaman bagi keluarga Keraton Cirebon, terletak + 6 Km ke arah Utara dari Kota Cirebon.
T r u s m i
Sentra batik tradisional Cirebon yang memiliki motif khas Cirebonan. Terletak 9 Km dari Ibukota Cirebon ke arah utara (di desa Trusmi, Kecamatan Weru). Di samping itu terdapat juga makam Ki Buyut Trusmi yaitu salah seorang tokoh penyebar Agama Islam di Wilayah Cirebon.
Makam Nyi Mas Gandasari
Salah seorang murid Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
Dihiasi dengan keramik buatan Cina jaman Dinasti Ming. Di komplek makam ini di samping tempat dimakamkannya Sunan Gunung Jati juga tempat dimakamkannya Fatahilah panglima perang pembebasan Batavia. Lokasi ini merupakan komplek pemakaman bagi keluarga Keraton Cirebon, terletak + 6 Km ke arah Utara dari Kota Cirebon.
T r u s m i
Sentra batik tradisional Cirebon yang memiliki motif khas Cirebonan. Terletak 9 Km dari Ibukota Cirebon ke arah utara (di desa Trusmi, Kecamatan Weru). Di samping itu terdapat juga makam Ki Buyut Trusmi yaitu salah seorang tokoh penyebar Agama Islam di Wilayah Cirebon.
Makam Nyi Mas Gandasari
Salah seorang murid Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
Tuesday, January 26, 2010
Buka Sirap Tradisi Empat Tahun Sekali
Buka Sirap adalah acara tradisi mengganti genting sirap yang terbuat dari kayu jati yang dilaksanakan setiap empat tahun sekali. Dulu Buka Sirap dilaksanakan semindu atau delapan tahun sekali. Karena kualitas kayu yang tidak begitu bagus untuk sirap maka acara yang tadinya detiap delapan tahun diperpendek menjadi empat tahun sekali.
Kesenian Yang Hampir Punah di Trusmi
Maaf belum diedit...
Artikel terkait tentang ritual masyarakat Trusmi :
- Kesenian Yang Hampir Punah di Trusmi
Selametan Kehidupan dan Kematian Masyarakat Trusmi
Maaf belum diedit...
Artikel terkait tentang ritual masyarakat Trusmi :
- Kesenian Yang Hampir Punah di Trusmi
Memayu Hayu Ning Diri lan Memayu Hayu Ning Bawana
“Memayu hayu ning diri lan memayu hayu ning bawana”, yang artinya selalu memperbaiki diri dan selalu berbuat baik di dunia. Mengambil filosofi memayu di atas berarti memayu adalah melakukan perbaikan terhadap sesuatu yang berhubungan dengan kita, di sini memayu dipersempit menjadi melakukan perbaikan terhadap warisan Buyut Trusmi
Saparan Ritual Masyarakat Trusmi
Dalam Islam bulan yang paling banyak membawa musibah adalah bulan Syafar. Dibulan ini diturunkannya 350.000 kecelakaan dan bencana., dan yang terbanyak pada hari Rabu terakhir bulan Syafar atau yang terkenal dengan istilah Rebo Wekasan.
Syawalan Ritual Masyarakat Trusmi
Setelah berpuasa selama bulan Romadhon, umat muslim disunahkan untuk menyambungnya selama enam hari berpuasa pada bulan Syawal. Siapa yang melaksanakan sunah tersebut ibarat berpusa setahun penuh. Maka selain hari kemenangan pada tanggal satu Syawal, masyarakat Trusmi juga menyambut kemenangan keduanya pada tanggal tujuh Syawal. Lalu apa yang dilakukan masyarakt Trusmi pada tradisi syawalan?
Setelah sholat shubuh masyarakat Trusmi melakukan tapak tilas pendiri padukuhan Trusmi dengan berjalan kaki menuju makan Sunan Gunung Jati. Tapak tilas ini dimaksudkan untuk mengenang kembali perjuangan para sesepuh mereka dalam menyebarkan Islam di Cirebon. Di situs makam Sunan Gunung Jati sendiri terdapat cungkup Trusmi yang khusus dibuat untuk masyarakat Trusmi. Cungkup ini sebagai tempat peristirahatan masyarakat trusmi ketika berjiarah ke makam Sunan Gunung Jati. Karena itu setiap empat tahun sekali dalam acara adat Buka Sirap masyarakat Trusmi berkewajiban merenovasi cungkup ini sebagai rasa tanggung jawab atas diberinya kepercayaan memiliki cungkup di situs makam Sunan Gunung Jati.
Setelah sholat shubuh masyarakat Trusmi melakukan tapak tilas pendiri padukuhan Trusmi dengan berjalan kaki menuju makan Sunan Gunung Jati. Tapak tilas ini dimaksudkan untuk mengenang kembali perjuangan para sesepuh mereka dalam menyebarkan Islam di Cirebon. Di situs makam Sunan Gunung Jati sendiri terdapat cungkup Trusmi yang khusus dibuat untuk masyarakat Trusmi. Cungkup ini sebagai tempat peristirahatan masyarakat trusmi ketika berjiarah ke makam Sunan Gunung Jati. Karena itu setiap empat tahun sekali dalam acara adat Buka Sirap masyarakat Trusmi berkewajiban merenovasi cungkup ini sebagai rasa tanggung jawab atas diberinya kepercayaan memiliki cungkup di situs makam Sunan Gunung Jati.
![]() singa payung | ||
Puasa Ritual Masyarakat Trusmi
Bulan penuh berkah bulan Romadhon atau Puasa terasa kental dengan nilai tradisi di Trusmi. Sebut saja dengan adanya berkat caratan, yaitu makanan untuk berbuka puasa yang dilakukan bergantian atau sukarela oleh masyarakatnya. Dan untuk pemangku gelar adat di Trusmi diwajibkan untuk melaksanakan tradisi maleman setelah tanggal 20 Puasa. Tradisi maleman ini berupa selametan dengan memberikan berkat berupa maakanan dan lauk pauk yang diberikan menjelang subuh.
Untuk masyaraktnya sendiri diwajibkan menyalakan damar malem, yaitu obor yang terbuat dari batang bamboo yang dililit kain dan dilapisi lilin dari sisa pembuatan batik. Damar malem ini dinyalakan di setiap pojok rumah pada malam setelah sholat magrib pada tanggal 21, 23, 25, 27, 29 Puasa dan pada malam lebaran dinyalakan di makam orang tua masing-masing. Tujuan ritual ini adalah sebagai penanda bahwa malam-malam lailatul qodar yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan akan turun pada malam-malam sepuluh terakhir tepatnya tanggal ganjil bulan puasa.
Sore hari setelah waktu ashar di tanggal terakhir bulan Puasa masyarakat Trusmi saling mengirim makanan berupa nasi dan telur ke saudara dan tetangga. Bagi yang mampu biasanya memberikan berkat ancak berupa nasi dan lauk pauk untuk makam keramat Buyut Trusmi. Masyarakat Trusmi tidak mengenal tradisi kupat pada waktu idul fitri dan idul adha seperti halnya yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Kupat hanya dibuat menjelang acara Memayu ( acara adat menjelang musim hujan ), dan wajib hukumnya bagi masyarakat Trusmi.
Untuk masyaraktnya sendiri diwajibkan menyalakan damar malem, yaitu obor yang terbuat dari batang bamboo yang dililit kain dan dilapisi lilin dari sisa pembuatan batik. Damar malem ini dinyalakan di setiap pojok rumah pada malam setelah sholat magrib pada tanggal 21, 23, 25, 27, 29 Puasa dan pada malam lebaran dinyalakan di makam orang tua masing-masing. Tujuan ritual ini adalah sebagai penanda bahwa malam-malam lailatul qodar yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan akan turun pada malam-malam sepuluh terakhir tepatnya tanggal ganjil bulan puasa.
Sore hari setelah waktu ashar di tanggal terakhir bulan Puasa masyarakat Trusmi saling mengirim makanan berupa nasi dan telur ke saudara dan tetangga. Bagi yang mampu biasanya memberikan berkat ancak berupa nasi dan lauk pauk untuk makam keramat Buyut Trusmi. Masyarakat Trusmi tidak mengenal tradisi kupat pada waktu idul fitri dan idul adha seperti halnya yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Kupat hanya dibuat menjelang acara Memayu ( acara adat menjelang musim hujan ), dan wajib hukumnya bagi masyarakat Trusmi.
Muludan Ritual Masyarakat Trusmi
Peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw diperingati oleh masyarakat Cirebon dalam berbagai bentuk. Sebagai tradisi yang turun temurun upacara muludan dilaksanakan di beberapa tempat di Cirebon, diantaranya di Keraton Kasepuhan dan Kanoman pada tanggal 12 Mulud, di Desa Tuk tanggal 19 Mulud, desa Gegesik tanggal 21 Mulud dan desa Trusmi tanggal 25 Mulud.
Subscribe to:
Posts (Atom)







